Skip to content

Dermaga Kapal

April 5, 2010

“Masing-masing dari kalian adalah pemimpin. Masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. Seorang lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.Wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya………” (H.R.Muttafaq ‘Alaih)

Saat aku memutuskan untuk menikah semua seperti mengalir begitu saja. Segalanya terlihat begitu mudah dan menyenangkan tetapi tidak dalam hati dan pikiranku. Mungkin karena aku tidak sedang jatuh cinta pada calon suamiku tapi lebih pada pertimbangan logika dan niat baikku. Aku sudah begitu lelah menjalani hari-hariku sendiri. Walau begitu banyak teman, saudara dan kesibukan, rasanya ada yang kurang. Seperti ada ruang kosong di hatiku yang menanti penghuninya. Ciiieeh.. kayak syair lagu ya?? Maklum seniman gagal he..he..

So ketika dia menyatakan perasaannya dan memintaku jadi “pacarnya” kira-kira 2 bulan setelah kami berkenalan dalam sebuah event launching buku perdana karangan temenku yang ternyata juga teman suamiku yang tentu saja waktu itu belum jadi suamiku, kesempatan buatku untuk mempraktekkan teori.

Waktu itu aku bilang “Aku gak mau jadi pacarmu karena aku tidak mau pacaran…” jeda sebentar untuk mengumpulkan keberanian… “Tapi aku mau jadi istrimu…”

Wow… akhirnya aku mengucapkannya. Aku tidak tahu pasti bagaimana reaksi wajahnya tapi aku tahu dia sangat kaget. Aku memberinya waktu untuk dia berpikir juga waktu untukku berpikir ulang. Dan… setelah berpikir, sholat Istikharah dan berdoa aku makin mantap dengan keputusanku dia pun juga begitu dan… menikahlah kami setahun setelah pertemuan pertama kami.

Waktu yang ada sebelum hari pernikahan, kami gunakan untuk memahamkan dan meyakinkan banyak orang, banyak pihak untuk bisa menerima keputusan kami dan mempercayai ini yang terbaik buat kami. Tidak mudah… karena banyak orang memiliki paradigma bahwa sebelum menikah kita harus pacaran dulu untuk lebih saling mengenal. Tapi aku meyakini menikah adalah ibadah. Dan ibadah tergantung dari niatnya Innamal a’malu bin niat… sesungguhnya semua amal ibadah itu tergantung dari niatnya. So yang aku lakukan dan aku juga minta yang dia lakukan adalah berusaha meluruskan niat hanya karena Allah semata. Aku tak berani claim bahwa niatku sudah lurus karena aku yakin wewenang itu ada pada Nya. Biarlah hanya Dia yang menilai kami. Sejauh ini pernikahanku luar biasa. Ada banyak berkah yang yang menghujani kami dan orang-orang di sekitar kami.  Bukankah itu luar biasa???

Diawal tadi aku bilang logika menyertai keputusanku untuk menikah. Ya, logika! memang benar..  Bukan hasrat cinta yang membara di dada. Aku percaya janji Allah bahwa wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Karena aku menginginkan laki-laki baik maka aku berusaha keras jadi wanita yang baik agar someday jika Allah berkenan meridhoi aku berjodoh dengan seseorang aku hanya akan berjodoh dengan laki-laki yang baik!

Aku tak pernah yakin apakah aku wanita yang baik sampai aku menikah dengannya. Dia suami yang luarbiasa baiknya sampai aku sering merasa aku tak cukup baik buatnya. Tapi aku sudah menikah dengannya so… horeee I’m the lucky one, aku sangat beruntung jadi wanita yang baik yang berjodoh dengan laki-laki yang baik juga. Sekian lama perjalananku akhirnya aku menemukan jalan untuk jadi lebih baik dan terus belajar untuk jadi lebih baik lagi karena suamiku juga selalu belajar menjadi lebih baik lagi, lagi dan lagi. Seluruh masa lalu yang penuh dengan salah dan khilaf perlahan kutinggalkan jauh dibelakang tanpa harus mengingkari bahwa semua itu pernah terjadi.

Aku tak pernah malu mengakui kelamnya masa-masa itu . Tapi buatku sudah cukup segala penyesalanku dan saatnya melangkah ke depan berjuang bersama suami dan anak-anakku untuk meraih surga bersama. Tak ada yang lebih kuinginkan selain dikumpulkan lagi di surga bersama-sama orang yang kucintai dalam kehidupan nanti di akhirat. Dan aku cukup sadar jalan untuk itu tak pernah mudah.Seperti kata suamiku… “surga tak pernah mudah mi..”

Perjuangan itu memang tak pernah mudah tapi mengingat surga yang Allah janjikan selalu bisa memberi suntikan semangat ketika saat-saat letih mampu menggoyahkan tekad kami.

Seperti pada umumnya sebuah awal tak mudah begitu pula pernikahan. Begitu banyak cobaan datang hingga nyaris memporakporandakan semuanya. Mulai dari masalah keluarga besar suami hingga segala kebiasaannya yang membuatku jengah. Juga karena segala romantisme dungu-ku yang tidak hanya menyiksaku tapi juga suamiku. Satu demi satu terurai dengan benar. Setiap pertengkaran menjadi ajang adu kekuatan ego antara kami berdua. Pada akhirnya semuanya itu membuat kami lebih saling mengenal karakter masing-masing. Tapi pada akhirnya kami berdua benar-benar belajar mengenal satu sama lain dari semua prahara yang terjadi hingga kami sadar kami harus segera berbenah kalau tak ingin perahu kami karam.

Allah menuntun kami pada jalan yang tepat hingga kami tersadar atas segala kebodohan kami. Dan yang paling penting yang telah mampu menyelamatkan pernikahan kami dan memberi kami kekuatan dan ilmu untuk tak sekedar bertahan tapi mampu menjadikan pernikahan kami bagai sebuah perahu yang berlayar menuju surga dengan membawa serta orang-orang yang kami cintai adalah sebuah training sederhana, training keluarga “SAMARO” (sakinah mawaddah warohmah).  Tak pernah aku tahu sebelumnya bahwa training seperti itu ada.  Dan wow luar biasa itu memberi kami tenaga tambahan untuk membenahi perahu kami yang hampir karam.

Makalahnya aku sertakan disini.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: