Skip to content

Sudah 5 Tahun Kita …

Mei 7, 2010

Sudah 5 tahun kita lewati bersama………
Dan akan terus bersama
Insya Allah hingga di akhirat nanti

Sudah 5 tahun terjalani…
Perjalanan panjang dan kerja keras
Tanpa henti…
Yang insya Allah berujung surga !

Sudah 5 tahun… kita rasakan
Beragam angin bertiup dari segala arah
Dan bermacam rasa dari banyak hal

Tak lagi sama seperti dulu
Tapi terasa lebih indah
Untuk dimaknai bersama

Dan semoga…
Dengan iringan doa dan pengharapan,
Kado kecil yang tak seberapa ini…
Akan turut sedikit memaknai, memberi tambahan rasa
dan meniupkan angin kesejukan…
Di perjalanan panjang yang penuh kerja keras
Dan pengorbanan tanpa henti
Hingga saatnya nanti…
Surga itu jadi sebuah kado yang teramat besar dan indah
Buat kita nikmati bersama.
Semoga……
(Bogor, 09-10-2009 ; Buat teman surgaku, dari yang tak pernah henti belajar untuk tulus……meraih surga bersamamu)

Rindu

Mei 7, 2010
tags:

Ketika bayangmu begitu dekat denganku
Ketika kuingat senyummu
Saat itu aku ingin di dekatmu

Tapi angan terbatas waktu
Dan asa yang kutiti tertatih-tatih
Membuatku enggan melangkah pasti

Terasa ada yang hilang di hati ini
Yang menghadirkan sejuta tanya
Mengapa tak jua kugapai dirimu

Tiada kata yang mampu kucipta
Agar kau takkan berlalu dariku
Tapi bayangmu begitu cepat berlalu
Meninggalkan sejuta nuansa bagiku

Ketika rindu mulai berlagu
Detik itu terasa semakin cepat
Membuyarkan segala angan dan mimpiku

Akhirnya datang kesunyian
Menyergap hari-hariku
Dan rindu bersemayam
Seakan hari begitu menyiksa
Menanti waktu bersua.
(Banjarbaru, Sabtu 24-11-1990 ; Bareng Dewi&Huda)

……….

Mei 7, 2010
tags: , ,

Kutatap sekelilingku
Kudapati semua mati !
Kupeluk diriku
Dingin terasa, hingga
Di dasar kalbu

Kuteriakkan kesalku
Gemanya kembali padaku
Kutumpahkan seluruh air mataku
Menggenangi rongga kalbuku

Kutatap lagi sekelilingku
Tetap saja tak ada suara, tak ada
bunyi, tak ada lagu buatku………

Angin merasuk menambah dinginku
Aku terpuruk dalam cekung amarahku
Kekecewaan telah menimbunku di sini
Dan aku hanya bisa menjerit lagi
Tapi lagi-lagi : …. hanya terdengar
Olehku sendiri !!!
(Bandung, Kamis 6-1-1994)

Sendiri Lagi

Mei 7, 2010

Kau tinggalkan aku sendiri
Terpuruk dalam kegalauan
Sementara bara di dadaku kian memanas
Aku jadi tak berdaya………

Aku sedih karena kau tinggalkan
Dan baraku hampir saja padam
Sementara kegalauanku
Kian berputar putar

Untung saja segera kusadari
Hidupku ini milikku
Dan takkan ada seorang pun
Yang bisa menggoyahkanku
Juga engkau!!!……
Tak kan ada
Tidak juga kau !!!

Kalau kini kurasa takut
Ketakutanku itu milikku jua
Takkan kubagi pada siapapun
Karena aku jualah yang memilihnya

Aku takut melihat masa depanku
Sementara masa laluku begitu kelabu
Tapi aku takkan tenggelam
Dalam bayang-bayang masa laluku

Bara di dadaku masih membara
Walau aku kini sendiri lagi
Benar-benar sendiri Tapi kegalauanku
Juga ketakutanku
Masih ada………
Tapi biarlah ada
Karena aku begitu yakin
Waktu akan mengajariku
Untuk memahami semua itu

Dan kelak bila saatnya tiba
Aku tak lagi hidup dalam takut dan galau
Tapi hidup dalam senyuman
Dimana kudapat cinta, kasih sayang’
Dan perhatian serta pengertian
Dari semua yang ada di hidupku
Juga dari seseorang dimana………
Aku……kan dapat menambatkan
perahuku di dermaganya
Dan berlabuh di sana.
(Solo, Rabu 4-Agt ’93)

Ketika Bulan Tinggal Sepotong

Mei 7, 2010

“An”,sketsa ini belum selesai
Ketika dulu aku harus pergi
Jadi hasrat buatku menuntaskannya,”An”
Tapi………
Ambisi pada obsessi telah memperbudakku

Malam ini,bulan tinggal sepotong “An”…….
Ketika cerita lalu begitu mengusikku
Semakin goyah angkuhku

Kusadari kini,”An”
Aku tak bisa lepas,
Dari penjaraku sendiri!

“An”,…………….
Masihkah kau ingat juga
Tempat pertama kugoreskan sketsamu?,
tempat kau memberikan garis pada sketsaku?,
dan tempatku mulai berharap sketsa ini bakal jadi???
Ataukah masih kau ingat juga,……..
Tempat dimana kau tebalkan garis pada sketsaku?

Jauh,”An”……..
Kita jauh sekarang
Tapi bulan yang tinggal sepotong itu
Juga ada di tempatmu,kan?
Aku tak tahu pasti
Dimana kau bawa sketsaku kini

Sketsa ini “An”………
Absurditas!
Mungkinkah???

Hasratku “An”,
Membawa cerita lalu itu kembali
Tapi,………..
Yach absurditas “An”!

Cerita lalu itu?
Aku yakin mampu menuntaskan sketsa ini
Absurd………(?)
Tahukah kau, “An”?
Absurd!!!

Bulan sudah hampir pergi,”An”
Begitu cepat
Absurd jugakah bila bulan itu
Esok akan datang lagi(?)

‘An”……….kata orang: Dunia penuh kemungkinan
Tapi mengapa sketsaku,cerita lalu itu,……..
Bersenda absurd “An”? kenapa?
Tahukah kau “An”?

Hari hampir pagi, “An”………..
Dan sketsa ini?
Masih juga seperti dulu: Belum selesai (!)

Cerita lalu itu, sketsamu “An”………
Masihkah kau ingat?
Masihkah kau simpan?
Absurditas “An”!
Semua absurd (?)

Ambisiku……obsesiku
Memenjarakanku kini
Maafkanlah aku, ‘An’
Semua ini salahku awalnya

Tiada akan pernah jemu aku berdoa, “An’……
Berharap cerita lalu itu kembali
Menuntaskan sketsa ini
Tapi…..lagi-lagi, tahukah kau apa itu ‘An”?:

Absurd
Absurditas “An”!
Yach……absurd !!! (?)

(Solo, 28 Nov ’91)
(Kupersembahkan buat : “Sketsa yang belum selesai” juga Indra dan J.P Sartre yang mengilhamiku)

Tuhan

Mei 7, 2010

Kupalingkan wajah
Dari hadap-MU yang megah
Kucoba cari langkah
Dengan gagah tanpa-MU

Kutelusuri jalan berliku
Dan hari-hariku yang semakin berdebu
Kubangun pilar kokoh
Di sepanjang jalanku
Seorang diri,kujalani dangan angkuh

Sampai akhirnya kuterjatuh
Tak kuasa lagi kutelusuri
Ternyata……………
Aku
Masih
Sama
Saja!

Kusadari……………
Kutak kan pernah berwarna,
Tanpa hadir-MU
Yang nyatanya kini kudamba
Kucoba hadapkan wajahku yang hilang
Kepada-MU yang megah
Nyatanya,aku harus bercermin!

Kucoba bersimpuh,
Dengan segenap doa dan peluh
Kupandang wajahku sendiri,
Betapa ku………..
Tak
Punya
Arti!

Dihadapan-MU
Kurasakan kehadiranku,
Cuma
Setitik
Debu!

Tuhan,……..
Aku penuh noda
Mengharap-MU, bersihkanku
Tuhan………
Aku datang lagi pada-MU

Tuhan………
Aku telah gagal!

Tuhan……..
Tuhan……..
Seruku menangis di  gelap malam
Ku tak akan pernah palingkan wajahku lagi
Dari MU!

Tuhan……
Tuhan…..
Seruku menangis di gelap malam
Aku rindu kasih-MU!
(Banjarbaru,24-10-1990)

Kapal Yang Berlabuh Di Pelabuhan Memang Aman, Namun Bukan Itu Tujuan Dibuatnya Kapal

April 5, 2010

Sebuah catatan panjang tentang opini, pemikiran dan harapan-harapanku sebagai seorang ibu yang sebisa mungkin kusampaikan secara santai tapi penuh makna. Juga menceritakan tentang bagaimana hari-hariku sebagai seorang seorang wanita yang menjadi ibu juga sebagai dirinya sendiri dan sebagai seorang istri yang kujalani dengan segala warna warni.

Menjadi seorang ibu tak pernah menjadi cita-citaku sejak dulu bahkan terlintas sedikit pun tidak. Tak pernah ada di kepala dan hatiku untuk mempersiapkan diri menjadi seorang ibu. Hal yang seringkali aku sesali kini. Bahkan aku pernah berpikir seperti kata banyak orang biarkan semua mengalir begitu saja mungkin ada benarnya. Tapi ketika akhirnya aku menjadi ibu dari seorang anak perempuan yang aku dan suamiku beri nama Qibty Fatiha Zindah, aku tahu pasti anggapan orang-orang itu salah besar, setidaknya buatku. Jujur harus kuakui, aku belajar banyak dari anak perempuanku yang lebih suka menyebut dirinya “akhwat”.

Aku harus berpacu, berlari kencang untuk mengumpulkan perbekalan menjadi ibu agar dia bisa belajar banyak dariku. Sungguh itu sangat melelahkan bahkan seringkali mampu membuatku stress. Itu karena aku tak pernah mempersiapkan diri dan disiapkan untuk kelak menjadi seorang ibu. Bahkan awalnya aku tak tahu bahwa menjadi ibu adalah ladang amal yang teramat sangat luas. Aku tak pernah tahu sampai aku membaca sebuah hadist tentang itu:

“Apakah kamu tidak rela wahai wanita,bahwasanya:
Apabila dia hamil dari suaminya sedangkan suami ridha padanya,dia memperoleh pahala orang yang berpuasa yang aktif berjihad di jalan Allah.

Apabila ia merasa sakit (akan melahirkan), maka penduduk langit dan bumi belum pernah melihat pahala yang disediakan kepadanya dari pandangan mata (sangat menyenangkan).

Maka ketika dia menyusui, tiadalah keluar seteguk susu dan anaknya menyusui seteguk, melainkan setiap tegukan susu itu berpahala satu kebaikan.

Dan jika dia tidak tidur semalam maka dia mendapatkan pahala memerdekakan tujuh puluh budak di jalan Allah “ (Al-Hadist)

Karena itu aku ingin membuat catatan panjang ini agar bisa selalu mengingatkanku ketika aku merasa letih menjadi seorang ummi. Catatanku ini yang kubuat di “meja kerjaku” yang terletak sudut kamar tidur kami, kubuat ketika aku bersantai bersama putri kecilku.  Sebuah meja kecil dan kasur merah cukup buatku “bekerja” untuk mengawali sebuah perjalanan panjang menjelajah dunia ibu yang menjanjikan surga.

Dalam sebuah buku pernah kubaca, “Anak ketika dia masih kecil dia akan mengganggu tidur kita dan ketika dia besar dia akan menggangu hidup kita.” Aku tidak tahu benar atau tidak tapi yah… Anakku seperti anak-anak kecil lainnya memang sering kali menganggu tidurku.  Tapi akankah ketika besar nanti dia akan mengganggu hidup ummi dan abinya??? Hhhmm..  entahlah masih akan sangat panjang perjalanan kami.

Tapi aku akan berusaha keras agar anakku tumbuh jadi anak yang mampu menyejukkan hati dan mata tidak hanya bagi orang tuanya tapi juga untuk orang-orang di sekelilingnya. Walau aku juga banyak tahu para orang tua yang hidupnya benar-benar tak pernah tenang bahkan sampai anak-anak mereka dewasa dan juga menjadi orang tua seperti orang tua mereka. Itu karena anak-anak mereka tak pernah bisa benar-benar menjadi dewasa dan mandiri secara finansial dan pemikiran.

Aku tak tahu siapa dan apa yang salah. Karena toh aku sendiri tengah belajar jadi orang tua. Sungguh begitu inginnya aku sebagai orang tua agar anakku kelak bisa tumbuh menjadi manusia dewasa yang tak hanya bijak dan mandiri tapi juga menjadi manusia yang berakidah kokoh dan berideologi kuat. Aku sangat menginginkan itu bukan hanya karena aku tak ingin sampai aku tua nanti anakku akan terus mengganggu hidupku tapi aku ingin terus melihat dia sebagai bidadari syurgaku. Karena anaklah sesungguhnya investasi paling berharga dalan hidup ini yang akan bisa kita petik buahnya kelak di akhirat nanti, Insya Allah…